|
(dikutip dari era muslim .com)
"Hai orang-orang
beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS Al-Hasyr: 18).
Secara jelas, ayat ini
menyuruh setiap mukmin untuk memperhatikan nasibnya di akhirat kelak. Bekal apa
yang telah kita siapkan agar selamat di alam yang baru itu?
Allah Swt. menerangkan
kata kuncinya, yaitu muhasabah. Makna muhasabah sebagaimana disyari'atkan oleh
ayat ini adalah hendaknya setiap kita menghisab diri ketika selesai melakukan
suatu pekerjaan, apakah pekerjaan itu untuk mendapatkan ridha Allah atau bukan?
Atau apakah amal itu telah diinfiltrasi sifat riya?
Setiap pagi, sebelum
melakukan aktifitas, mestinya kita selalu memperbaiki dan meluruskan niat,
melaksanakan taat, memenuhi segala kewajiban, dan membebaskan diri dari sifat
riya. Demikian pula sewaktu menjelang tidur, hendaknya kita menyempatkan untuk
berkhalwat dengan diri sendiri guna menghisab semua yang telah dilakukan. Bila
yang dilakukan itu kebaikan, maka kita patut memanjatkan puji syukur kepada
Allah seraya memohon keteguhan dan tambahan kebaikan kepada-Nya. Sebaliknya,
bila yang dilakukan bukan kebaikan, maka kita harus beristighfar, bertaubat,
serta kembali ke jalan-Nya.
Benarlah apa yang
dikatakan Umar bin Khaththab, "Hisablah diri kalian sebelum kalian
dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah
untuk pertunjukkan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada
pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun."
Seorang mukmin ibarat
pedagang yang selalu mengontrol modal, keuntungan, dan kerugian, agar dapat
diketahui apakah dagangannya itu untung atau rugi. Modal seorang mukmin adalah
Islam yang mencakup segala perintah, larangan, tuntutan, dan hukum-hukumnya.
Keuntungan akan diperoleh bila kita melakukan ketaatan dan menjauhi
larangan-Nya. Dan kerugian akan didapat bila kita melakukan perbuatan dosa dan
maksiat.
Ketika kita selalu memperhatikan modal, memperhitungkan
keuntungan dan kerugian, bertobat dikala melakukan kesalahan dan
bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan, Insya Allah kita termasuk orang
yang menghisab diri sebelum hari penghisaban, yaitu hari kiamat.
|